SUKA DUKA MATA PELAJARAN SENI BUDAYA (2)


(Bagian 2)

GURU SENI BUDAYA = GURU SERBA BISA ?

Jika kita memperhatikan tujuan mata pelajaran Seni Budaya, khususnya di tingkat SMP, maka kita akan menemukan ada empat butir tujuan, yaitu :

pertama, memahami konsep dan pentingnya seni budaya ;

kedua, menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya ;

ketiga, menampilkan kreativitas melalui seni budaya ; dan

keempat, menampilkan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal, regional, maupun global.

Itu semua jelas tercantum dalam lampiran Permendiknas No. 22 TH 2006 tentang Standar Isi sebagai landasan hukum bagi guru Seni Budaya ketika melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah. Selanjutnya dalam lampiran Permendiknas itu pun dijelaskan tentang ruang lingkup mata pelajaran Seni Budaya yang terdiri dari empat aspek yaitu Seni Rupa, Seni Musik, Seni Tari dan Seni Teater. Sampai di sini, bisa disimpulkan bahwa seorang guru Seni Budaya punya kewajiban untuk mengajarkan materi seni budaya secara utuh agar tujuan mata pelajaran ini tidak hanya tercapai secara parsial, terbatas pada empat atau bahkan salah satu atau salah dua dari keempat aspek ruang lingkup mata pelajaran Seni Budaya.

Namun sayang, tujuan mata pelajaran Seni Budaya yang menurut hemat penulis sudah sedemikian baik, serta memiliki cakupan yang luas itu kemudian dikerdilkan lagi dengan diktum yang berbunyi sebagai berikut :

” Di antara keempat bidang seni yang ditawarkan, minimal diajarkan satu bidang seni sesuai dengan kemampuan sumberdaya manusia serta fasilitas yang tersedia. Pada sekolah yang mampu menyelenggarakan pembelajaran lebih dari satu bidang seni, peserta didik diberi kesempatan untuk memilih bidang seni yang akan diikutinya”.

Diktum terakhir itu seakan tidak sejalan lagi dengan tujuan mata pelajaran Seni Budaya karena “tawaran” yang ada di sana diarahkan kepada memilih sebagian aspek bidang seni yang kemudian membawa implikasi terjadinya parsialisasi pembelajaran Seni Budaya. Ibarat mata pelajaran IPA tapi yang diajarkan hanya materi biologi atau fisika saja. Apalagi jika menelaah dokumen Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang menjadi acuan untuk menyusun silabus dan RPP Seni Budaya, di sana akan ditemukan serangkaian SK dan KD yang sudah sedemikian ekslusif dan terpolarisasi pada kekhususan empat cabang seni (rupa, tari, musik, teater). Seorang guru akan kesulitan mencari landasan hukum dalam bentuk SK atau KD jika mau menguraikan materi tentang konsep umum dan keragaman bentuk seni budaya. Lebih susah lagi jika mau menguraikan realitas seni yang berbasis budaya Nusantara yang tidak mengenal pemisahan secara tegas di antara keempat cabang seni seperti dikelompokkan dalam lampiran Permendiknas di atas.

Dengan latar belakang kondisi seperti itu, tidaklah mengherankan jika muncul fenomena-fenomena sumbang terkait mata pelajaran seni budaya, di antaranya sebagai berikut :
- Guru Seni Budaya mengajar tanpa kelengkapan administrasi guru seperti silabus atau RPP.
- Ada Guru Seni Budaya yang Administrasinya lengkap tapi realitas operasional pembelajarannya tidak sesuai dengan silabus atau RPP yang dibuatnya (ya… formalitas saja mungkin)
- Peserta didik dalam pembelajaran seni budaya mungkin enjoy-enjoy saja, tapi kurang bisa diajak berpikir “agak serius” tentang mengapresiasi bentuk-bentuk seni budaya yang tidak selaras dengan “minatnya”.
- Ada kelompok guru atau peserta didik yang kebetulan eksis dalam salah satu bidang seni tetapi kelompok itu “mengidap” penyakit alergi terhadap bidang seni yang lain, bahkan alergi terhadap salah satu aliran musik yang tidak diminatinya.
- Betapa susahnya mengajak peserta didik untuk mengapresiasi bentuk-bentuk seni budaya bangsanya sendiri.

Meskipun sebenarnya, tidak sedikit guru seni budaya yang sudah berpengalaman, menghasilkan karya-karya besar baik karya langsung dirinya maupun melalui para muridnya, oke-oke saja dalam melaksanakan tugas, dan punya kharisma tersendiri di sekolah atau di lingkungan dinas pendidikan setempatnya. (Gimana ya resepnya biar lebih Pede ngajar tapi nggak dibingungkan juga dengan landasan hukum seperti yang saya urai di atas)

Padahal dengan sifat multikulturalnya, pendidikan seni budaya dapat menumbuh-kembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara. Dan hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk. Namun berbagai problematika moral dan sosial yang kita saksikan saat ini sepertinya belum tersentuh merata oleh roh dari culture based art education yang tengah kita bicarakan ini.

Maka problematika mata pelajaran Seni Budaya di SMP di Kabupaten Cilacap sebetulnya tidak bisa diurai hanya dengan mem-PNS-kan guru dengan kualifikasi akademik yang tidak full-compatible mengingat sarjana S-1 Seni Budaya belum ada. Apalagi dengan alih-alih menambah jumlah guru Seni Budaya yang mismatch akan lebih baik jika program sertifikasi guru Seni Budaya lebih diprioritaskan. Bukankah saat ini guru Seni Budaya di sekolah negeri dan swasta baik PNS maupun non-PNS semuanya mismatch terhadap Permendiknas No. 22 TH 2006 ?

Akhirnya, jika judul tulisan ini membahas masalah guru mata pelajaran yang “njlimet” dengan segala suka dukanya, dibandingkan dengan mata pelajaran matematika atau IPA, tentu untuk mata pelajaran Seni Budaya yang diharapkan menjadi mata pelajaran “refresing” sudah tercapai. Hanya saja “mata” yang mempelajarinya dengan seksama belum sebanyak yang memandangnya sebelah mata. Sehingga masih kerap dijumpai kebijakan dari pihak sekolah maupun guru yang mengajar terhadap mata pelajaran Seni Budaya terkesan ala kadarnya.

Penulis yakin, jika semua permasalahan yang diuraikan diawal tulisan ini (bag.1) belum semuanya terjawab dan tidak akan mungkin dapat terjawab hanya dengan satu atau dua kali pembahasan. Untuk itu kami sangat terbuka terhadap tanggapan dan masukan saran dari pembaca sekalian sehingga apa yang sudah penulis awali ini akan berlanjut pada pembahasan lebih lanjut yang lebih spesifik dan tepat sasaran terhadap masalah yang dihadapi.

(Selesai)

About these ads

6 Komentar (+add yours?)

  1. lutfiah
    Mar 20, 2011 @ 17:26:16

    bener-benar sangat rumit untuk mengurai materi tentang konsep umum dan keragaman bentuk senibudaya. saya merasa tugas yang emban (mengajar seni budaya) terlalu berat…. basic saya pendidikan teknik elektro dan pendidikan matematika. ketiadaan guru seni budaya, kepala sekolah memaksa saya (sebagai penikmat seni)

    Balas

    • Pengurus
      Apr 04, 2011 @ 23:23:08

      sdri. Lutfiah..

      semoga dengan kenyataan seperti itu tidak menyurutkan semangat anda dalam mengajar seni budaya :)
      Memang satu hal yang sebenarnya kurang tepat, tetapi entah kenapa, atau karena sudah biasa mata pelajaran seni budaya (dipandang sebelah mata dibandingkan mata pelajaran eksak) maka hal seperti itu menjadi umum dan masih berlanjut sampai sekarang.
      Satu hal yang mungkin bisa menenangkan adalah anda tidak sendirian, banyak guru/sekolah lain yang bernasib sama.

      Balas

  2. satria
    Mar 20, 2011 @ 00:45:12

    saya ingin bertanya?
    apa dalam mata pelajaran seni budaya dibutuhkan suatu paket pembelajaran berbasis multimedia?? di mana dalam suatu paket pembelajaran tersebut mencakup tujuan pembejaran, materi dan implementasi dalam kehidupan nyata dan evaluasi yang dibungkus dalam multimedia yang menarik.

    Balas

    • Pengurus
      Apr 04, 2011 @ 23:14:45

      Terima kasih sdr.Satria

      Seorang guru disamping mempunyai kompetensi seperti mampu merumuskan indikator, menentukan metode belajar, mengalokasikan waktu yang tepat dan memilih bahan kajian maka salah satu yang tidak kalah penting adalah pemilihan media. Media yang tepat, menarik dan berbasis teknologi (multimedia) diharapkan dapat menciptakan suasana belajar yang tidak menjemukan.

      Balas

  3. natalist
    Feb 08, 2011 @ 22:28:44

    memang benar benar rumit..dan perlu ditelaah ulang..tentang kebijakan pemerintah

    Balas

    • Admin
      Feb 09, 2011 @ 11:02:45

      natalist..
      terima kasih atas kunjungan dan tanggapannya :)

      semoga ini semua bukan hasil akhir..
      melainkan suatu proses untuk menemukan satu formula yang paling tepat

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

CO.CC:Free Domain

Hasil Karya dan Kegiatan

21012011786

21012011785

21012011783

21012011782

More Photos

RSS Tentang Pendidikan

  • Pakaian Seragam Nasional SMA (Permendikbud No.45/2014)
    Pakaian seragam nasional adalah pakaian yang dikenakan pada hari belajar oleh peserta didik di sekolah, yang jenis, model, dan warnanya sama berlaku secara nasional. Pakaian seragam nasional dikenakan pada hari Senin, Selasa, dan pada hari lain saat pelaksanaan Upacara Bendera.Read more ›
  • Visi dan Misi Calon Presiden-Wakil Presiden tentang Pendidikan
    Merujuk pada dokumen visi dan misi yang ditawarkan oleh kedua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, berikut ini disajikan cuplikan komitmen masing-masing pasangan terhadap pendidikan: Read more ›
  • Sinergi Arah Peminatan Pendidikan Dasar dengan Pendidikan Menengah
    Peminatan di sekolah sebagai jawaban atas permasalahan yang timbul di masyarakat mengenai pemilihan jurusan atau arah peminatan yang menggambarkan keraguan peserta didik dalam menentukan pilihan mata pelajaran atau jurusan pada sekolah lanjutan atas yang sesuai dengan kemampuannya...Read more ›
  • Jambore Konselor Indonesia 2014
    Ikatan Konselor Indonesia (IKI) akan menggelar kegiatan Jambore Konselor Indonesia I Tahun 2014 bertempat di P4TK Penjas dan BK Parung – Bogor, 21-23 Maret 2014...Read more ›
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: