Pengurus MGMP Seni Budaya Tingkat KOMDA


Kepada Yth.

Pengurus MGMP Tingkat Komda

di Kabupaten Cilacap

Assalammu’alaikum Wr.Wb

Dengan tujuan untuk  peningkatan mutu tenaga pendidik, khususnya guru mata pelajaran Seni Budaya dan banyaknya saran dan pendapat dari guru-guru Seni Budaya di Cilacap, maka disepakati untuk :

  1. Memaksimalkan peran dan fungsi MGMP Seni Budaya dengan diawali Penataan ulang (revitalisasi) Susunan Pengurus MGMP;
  2. Segera mengadakan pertemuan antar guru Seni Budaya Kab. Cilacap sebagai tindak lanjut Sosialisasi Penguatan KTSP;
  3. Perlunya mengadakan Pelatihan dan Pengimbasan Materi (bekal ketrampilan praktik), mengingat cukup banyak guru Seni Budaya yang bukan berlatar belakang Seni Budaya;
  4. Pembahasan lebih lanjut mengenai penyusunan Buku Materi (Pegangan Guru) tingkat Kabupaten Cilacap;

Mengingat pentingnya kegiatan tersebut, maka diharapkan kepada  pengurus MGMP Seni Budaya di masing-masing Komda di Kabupaten Cilacap untuk segera mengirimkan Susunan Kepengurusan MGMP.

Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan komunikasi antar pengurus agar perencanaan program kegiatan selanjutnya segera dapat dilaksanakan.

Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Wassalammu’alaikum Wr.Wb

Ketua MGMP Seni Budaya

Kabupaten Cilacap

Liliek Riyanto, S.Pd

Pengiriman dapat melalui email

mgmpseni@ymail.com

PENGEMBANGAN MATERI DAN KEGIATAN PEMBELAJARANNYA DALAM KTSP BIDANG SENI MUSIK


oleh Suharto, Jurusan Musik, Fakultas Bahasa dan Seni, UNNES

Pendahuluan

Pengembangan materi merupakan hal penting dalam pelaksanaan kurikulum. Pengembangan materi dalam hal ini adalah penentuan materi pokok /pembelajaran hasil “penerjemahan” Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD). Hasil penerjemahan ini harus tercermin dan tertulis dalam silabus yang telah dibuat sebagai bagian dari pengembangan kurikulum, sebagai panduan dalam pelaksanaan pembelajarannya.

Hasil pengamatan penulis terhadap pelaksanaan kurikulum yang dilakukan guru-guru menunjukkan keragaman dalam menafsirkan isi SK maupun KD. Sebenarnya ini merupakan suatu perkembangan baik selama penyusunannya merupakan hasil pengembangan yang berdasar prosedur yang benar seperti kajian pada kebutuhan siswa, latar belakang siswa, karakteristik siswa, fasilitas yang tersedia. Akan sangat disayangkan jika rumusan-rumusan itu hanyalah formalitas yang tidak bisa dilaksanakan di kelas yang disebabkan oleh keterbatasan sekolah, kemampuan guru, dan latar belakang siswa yang jauh dari karakteristik pelajaran tersebut. Akibatnya, tujuan pembelaran tidak tercapai. Misalnya, sebuah KD 4.1 pada kelas VII semester I yang berbunyi “Mengaransir secara sederhana karya lagu daerah setempat”, ditafsirkan sangat beragam oleh guru-guru termasuk oleh para mahasiswa pratikan yang sedang praktek PPL di sekolah-sekolah. Penafsiran ini bisa dimulai dari pengertian mengaransir, dan daerah setempat. Pengertian mengaransir selalu dikaitkan dengan notasi banyak suara (minimal dua suara). Sementara, daerah setempat ditafsirkan dengan daerah-daerah yang ada di Nusantara. Padahal, mestinya pengertian daerah setempat adalah daerah di mana siswa itu belajar. Namun demikian, inilah salah satu kelemahan kurikulum kita dalam merumuskan KD-KD-nya, yang belum memperhatikan bahwa tidak semua daerah memiliki seni yang bersifat tertulis (notasi). Di Jawa Tengah, walaupun sudah bisa dibuat notasi pada lagu-lagu daerahnya (Jawa) baik yang bertangga nada pelog maupun slendro. Betapa sulitnya membuat aransemen pada lagu-lagu asli yang bertangga nada tersebut, jika gurunya berlatar belakang musik diatonis. Akhirnya, yang dilakukan guru-guru adalah memberikan lagu-lagu daerah lain yang bisa diaransir dua, tiga, bahkan empat suara, yang sebenarnya sangat berbeda dengan karakteristik lagu Jawa Tengah yang asli.

Dalam merumuskan kegiatan pembelajaran sering pula guru menjabarkan yang kurang relevan dengan KD-nya, maupun kurang lengkap untuk mencapai tujuan pembelajarannya atau pencapaian kompetensi yang diharapkan. Di samping itu, rumusannya masih sangat multi-tafsir. Misalnya, pada SK “Mengapresiasi karya seni musik” dengan salah satu KD yang berbunyi “Mengidentifikasi jenis lagu daerah setempat”, mereka cenderung merumuskan tidak secara spesifik “daerah setempat” yang dimaksud, seperti Jawa Tengah, bahkan bila perlu bisa disebutkan Boyolali, Banyumas, Semarang, dan lain-lain. Ketidakrelevanan bisa juga dilihat dari cara penilaiannya. Agar hasil tes benar-benar untuk menguji kompetensi siswa dalam berapresiasi, misalnya untuk kegiatan pembelajaran mendengarkan lagu-lagu Jawa Tengah, di samping tes tertulis bisa juga dengan bentuk instrumen tes observasi dengan lembar observasi yang disiapkan guru sesuai dengan indikatornya. Observasi itu bisa dimulai dari mengidentifikasi jenis- jenis instrumen (alat musik) yang digunakan, karakter instrumen, sumber bunyi, komentar, dan lain-lain. Karena, bagaimana pun pelajaran Seni Budaya yang memuat unsur apresiasi bukan mencari benar dan tidaknya suatu pendapat hasil observasi tapi salah satunya adalah bagaimana siswa mampu menyikapi, menilai dan memberi penghargaan pada suatau karya seni sesuai karakteristik dan tujuan pembelajaran Seni Budaya. Intinya, dalam perumusan materi pokok /pembelajaran tetap mengacu pada sifat, keunikan, dan peran pendidikan Seni Budaya. Di samping itu, setiap penyusunan materi tersebut harus realistis dengan keadaan/karakteristik siswa, kemampuan guru, fasilitas yang tersedia. Rumusan-rumusan yang tidak realistis tidak hanya membingungkan siswa dan guru tetapi tujuan pembelajaran yang tidak bermanfaat karena tidak sesuai dengan tujuan pembelajaran. Juga karena yang dirumuskan, dilaksanakan, dan diujikan tidak mencerminkan relevansi maupun kompetensi yang diharapkan.

Menelisik Kembali Hakikat, Sifat, Tujuan dan Peran Pendidikan Seni Budaya bidang Seni Musik dalam KTSP

Dalam KTSP, cabang mata pelajaran Seni Budaya yang tediri dari seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater memiliki tujuan antara lain (1) memahami konsep dan pentingnya seni budaya, (2) memahami sikap apresiasi terhadap seni budaya, (3) menampilkan kreativitas melalui seni budaya, dan (4) menampilkan peran serta dalam seni budaya dalam tingkat lokal, regional maupun global. Masing masing cabang seni ini memiliki ruang lingkup sendiri berdasarkan bidang/media dan karakter seni tersebut. Seni musik memiliki ruang lingkup yang mencakup kemampuan untuk menguasaia olah vokal, memainkan alat musik, dan apresiasi karya musik. Dari ruang lingkup inilah kemudian dijabarkan melalui SK dan KD pada setiap tingkatannya.

Walaupun mata pelajaran Seni Budaya mengandung unsur kata “budaya” namun aspek budaya ini tidak dibahas secara tersendiri melainkan terintegrasi dalam seni. Mata pelajaran Seni Budaya merupakan pendidikan seni yang berbasis budaya. Budaya meliputi segala aspek kehidupan mulai dari cara hidup (style of life), keyakinan (belief), berbahasa, sampai pada berekspresi termasuk berkesenian. Berbicara seni tidak lepas dari budaya yang melingkupinya, seperti halnya kita belajar bahasa yang tak lepas dari budaya yang melatar belakanginya. Jika kita mempelajari seni suatu daerah tertentu maka secara otomatis mempelajari pula budaya yang mengasilkan karya seni tersebut.

Seni Budaya termasuk halnya seni musik memiliki kekhasan atau keunikan tersendiri yang tidak dimiliki mata pelajaran lain sehingga cara pembelajarannya pun berbeda dengan yang lain. Hal ini sangat bermanfaat bagi kebutuhan perkembangan siswa. Dalam pendidikan seni untuk mencapai kebermaknaan ini dikenal dengan pendekatan “belajar dengan seni” , “belajar melalui seni” dan “belajar tentang seni”. Kegiatan dengan pendekatan ini adalah untuk memberikan pengalaman estetik dalam bentuk kegiatan berkreasi atau berekspresi, dan berapresiasi. “Belajar dengan seni” mengandung makna bahwa dalam aktivitas belajar apa pun kita bisa melibatkan seni di dalamnya. Misalnya, belajar sambil mendengarakan musik. “Belajar melalui seni” bermakna bahwa seni bisa digunakan sebagai sarana untuk mempelajari hal-hal atau bidang yang lain. Misalnya, dalam mempelajari lagu, di samping belajar musik kita juga bisa sambil mempelajari sastra, sejarah, nasionalisme, sosial, agama dan lain-lain. Konsep ini menganut pendapat yang dipopulerkan oleh H. Read (1970) yang dikenal dengan pendekatan education through art. Dan, “belajar tentang seni” bermakna bahwa untuk mencapai tujuan estetis siswa bisa langsung belajar pada seni tersebut yang meliputi segala aspek yang ada dalam seni tersebut. Misalnya, siswa belajar musik diharapkan siswa mampu menguasai musik atau tujuan dari pembelajaran musik tersebut agar mampu menyanyikan atau memainkan musik tersebut sesuai dengan tujuan pembelajarannya.

Pendidikan Seni Budaya memiliki kekhasan tersendiri. Karakteristik inilah yang menjadikan pendidikan seni budaya ini memiliki tujuan khusus dalam mencapai tujuan pendidikan secara umum. Ada tiga sifat yang dimiliki pendidikan Seni Budaya yaitu sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Multilingual artinya dalam pengembangannya bisa dilakukan dengan berbagai cara dan media seperti seni rupa, bunyi, gerak, peran, dan perpaduan dari media itu. Multi dimensional bermakna pengembangan kompetensi yang meliputi konsepsi, apresiasi, dan kreasi dengan memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Dan, multikultural bermakna bahwa pengembangan kompetensi bisa melalui kegiatan yang menimbulkan apresiasi terhadap keragaman budaya Nusantara dan mancanegara.

Pendidikan seni memiliki bidang garap sendiri yang tidak sama dengan bidang lain seperti bidang matematika yang menggarap bidang logika. Bidang garap seni adalah rasa dan sikap apresiatif yang bisa dicapai melalui kegiatan apresiasi dan kreasi untuk memenuhi kebutuhan pribadi peserta didik yang harmonis. Manusia pada hakekatnya memiliki mutikecerdasan yang tidak hanya berdasarkan kecerdasan dan logika tetapi kecerdasan lainnya. Menurut Gardner (1993) manusia memiliki multi kecerdasaan (multiple intelligences ) antara lain (1) kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), (2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berfikir runtut), (3) kecerdasan musikal (kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), (4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mentaltentang realitas), (5) kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), (6) kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan rasa jati diri), kecerdasan antarpribadi (kemampuan memahami orang lain). Guru Seni Budaya bisa memanfaatkan sifat kecerdasan manusia ini untuk mendapatkan konsep Seni Budaya secara utuh dengan mengeksplorasi segala potensi yang ada.

Tinjauan Kurikulum dan Pengembangan Materi Seni Budaya SMP/MTs
bidang Seni Musik

Pengertian pengembangan materi di sini adalah bagaimana guru dapat menerjemahkan SK dan KD, menetapkan, dan merumuskannya materi atau bahan pelajaran dalam kegiatan pembelajarannya maupun evaluasinya. Kegiatan ini akan tercermin dan tertuang dalam kurikulum yang dibuat oleh guru atau sekolah dalam silabusnya.

Dalam pelaksanaan penyusunan materi pokok tidak lepas dari tujuan mata pelajaran Seni Budaya dan ruang lingkup pelajaran bidang Seni Musik. Ruang lingkup seni musik menurut panduan kurikulum mencakup ”kemampuan untuk mengalami dan merasakan olah vokal, mengekspresikan impresi bunyi, dan apresiasi karya musik. Jelaslah di sini bahwa ini hanya bisa dilakukan melalui kegiatan apresiasi dan kerasi atau ekpsresi”. Bahkan, dalam rumusan itu tidak tersurat unsur kognsinya atau pun konsepsi seperti ruang lingkup yang mencantumkan unsur pengetahuan di dalam rumusan itu. Padahal, pelajaran Seni Budaya telah disebutkan seperti disebutkan dalam dalam latar belakang standar kompetensi memiliki sifat multidimensional yang bermakna memliki sifat pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Anehnya, para guru Seni Budaya lebih suka melakukan materi pembelajaran yang bersifat konsepsi. Itu pun hanya terbatas pada pengetahuan dan sedikit pemahaman. Hal ini bisa disebabkan kemampuan penguasaan materi guru yang terbatas. Keterbatasan ini bisa dimaklumi karena latar belakang pendidikan seni yang berbeda dengan bidang seni yang diampunya.

Berikut adalah daftar standar kompetensi dan kompetensi dasar serta pertimbangan materi pokok yang bisa digunakan. Pertimbangan materi pokok ini bersifat lokal yaitu mengambil contoh kurikulum yang diberlakukan di Jawa Tengah, walaupun bisa lebih sempit lagi wilayahnya misalnya daerah Banyumas, Tegal, dan sebagainya. Jumlah materi yang ditampilkan adalah contoh yang bisa ditambah disesuaikan dengan latar belakang dan kemampuan siswa, sarana sekolah dan kemampuan guru.

Kegiatan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran akan melibatkan pada bebarapa aspek yaitu (1) materi pelajaran, (2) tujuan pembelajaran, (3) karakteristik siswa, (4) kemampuan guru, dan (5) sarana atau fasilitas yang dimiliki sekolah. Materi yang telah kita tetapkan tidak bisa serta merta kita terapkan. Jika salah satu dari empat aspek itu diabaikan dan tidak tersedia maka rumusan kegiatan pembelajaran yang ideal kita tidak bisa berjalan dengan baik. Memaksakan kehendak, misalnya memaksakan dalam memberikan pembelajaran lagu tradisional Jawa, dengan membaca notasi pentatonik, padahal guru tidak menguasai dan tidak mampu menyanyian tangga nada pentatonik Jawa Tengah akan berakibat fatal. Demikian juga dengan penggunaan media. Jika sekolah tidak tersedia peralatan yang kita butuhkan atau bahkan guru belum mampu menggunakan fasilitas yang tersedia maka sebaiknya tidak digunakan dulu.

Pelajaran Seni Budaya khususnya Seni Musik sesuai dengan ruang lingkupnya, utamanya adalah kegiatan apresiasi dan kreasi/ekspresi. Pencapaian dua kegiatan itu memang bisa sederhana dan bisa juga sangat kompleks. Selama guru bisa memilih dan mengelola materi dan mengelola kelas dengan baik maka proses pembelajaran tetap menarik siswa.

Dalam tulisan ini penulis tidak memberikan contoh-contoh seperti dalam memilih materi pelajaran. Karena, sebenarnya kegiatan pembelajarannya hanya ada dua kelompok besar yaitu kegiatan apresiasi dan ekspresi/kreasi. Namur demikian, guru perlu memahami kembali konsep-konsep apresiasi agar dalam menyampaikan materi tidak terbatas pada konsepsi (pengetahuan dan pemahaman) saja tetapi lebih dari itu. Pembelajaran apresiasi tidak cukup dengan konsepsi yang diberikan secara teoritis tetapi juga memerlukan pengalaman estetis. Dalam kegiatan mendengarkan lagu, misalnya, guru bisa mengajak siswa untuk mengidentifikasi unsur-unsur musik, jenis alat musik yang digunakan, karakter lagu atau musik, kesan lagu, sifat lagu, pesan lagu, tangga nada yang digunakan, sampai pada pemberian penilaian tentang lagu yang diperdengarkan. Bahkan, lagu model tersebut bisa digunakan untuk kegiatan kreasi dengan menyanyikan lagu itu kembali bahkan membuat modifikasi akor ataupun improvisasi. Pemilihan lagu yang bervariasi memang perlu tetapi hal itu bukan tujuan utama. Setiap pemberian kegiatan apa pun lagu model yang digunakan tidak lepas dari dua kegiatan itu. Pengalaman estetis bagi siswa lebih penting sehingga tujuan kurikulum Seni Budaya akan tercapai. Pengalaman esteis pada hakekatnya merupakan pengalaman belajar setelah berapresiasi dan berkreasi seni yang melibatkan proses mental dan fisik melalui berbagai interaksi.

Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan kegiaan pembelajaran antara lain, (1) berupa pengetahuan, sikap (apresiasi), dan keterampilan (kreasi), (2) memuat kegiatan siswa untuk mencapai kompetensi dasar, (3) berpusat pada siswa (student-centered), (4) materi kegiatan harus jelas dirumuskan sesuai dengan tujuan pembelajarannya, dan (5) rumusan kalimat minimal mengandung dua unsur kegiatan, kegiatan yang berupa kata kerja dan objek belajarnya.

Penutup

Adanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) akan memberi peluang bagi guru dan sekolah untuk mengembangkan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan siswa, fasilitas, dan kreativitas gurunya. Rumusan Standar Kompetensi dan Kompetensi dasar dalam kurikulum bersifat minimal. Guru dan sekolah, bahkan unsur pendidikan lain seperti Komite Sekolah bisa ikut terlibat dalam pengembangannya. Pengembangan terutama dalam pembuatan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran, dapat dilakukan terus menerus sehingga kurikulum yang diacu akan bersifat dinamis, selalu berkembang setiap saat menyesuaikan perkembangan yang ada.

Akhirnya, semua akan kembali kepada guru sebagai fasilitator dan pelaksana kurikulum. Pembelajaran yang berpusat pada siswa harus senantiasa diperhatikan. Pembelajaran yang berkutat pada teori hanya akan memberi peluang bagi guru untuk melakukan interaksi satu arah sedangkan siswa bersifat pasif. Aktifitas siswa dalam kegiatan berapresiasi dan berkreasi akat tercermin secara jelas dalam materi pokok pelajaran, kegiatan pembelajaran, sampai pada media yang digunakan.

DAFTAR REFERENSI

Bloom et.Al. (1956). Taxonomy of Education objectives; The Clasification of Educational Goals. New York: McKay.

Brady, L. (1992). Curriculum development. (4th ed.) New York: Prentice-Hall.

Curriculum Corporation.(1994). A Statemen on the Arts for Australian School

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Serial Buku Album tentang Seni Rupa Banyak Daerah di Indonesia.

Fisher, J. (ed.) Modern Indonesian Art. Jakarta and New York: Panitia

Pameran Rias (1990-91) and Festival of Indonesia, 1990.

Gardner, H. (1993) Multiple Intelligences: From Theory to Practice. New York: Basic Books

Henkes, R. 1965. Orientation to Drawing and Painting. Pensylvania International Textbook

Mukminan dkk. (2002). Pedoman Umum Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP). Yogyakarta: Program Pascasarjana UNY.

Mukminan, dkk. 2002. Pedoman Umum Pengembangan Silabus Berbasis Kompetensi Siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP). Yogyakarta: Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

Piaget, J. (1970) Science of Education and the Psychology of the Child. New York: Viking.

Scinneler, J.A. (1964). Art. Search and Self-Discovery. Scranton, Pensylvania: Internasional Textbook.

Soedarso SP dkk. (1990-1991). Perjalanan Seni Rupa Indonesia dari Zaman Prasejarah hingga Kini. Jakarta: Pameran Kias.

Sprinthall, R.C dan N.A. Sprinthall (1977) Educational Psychology: A Developmental Approach, Sydney: Addison-Wesley Publishing Company

Suharto, 2000. “Peran Seni dalam Pengoptimalan Fungsi Otak” dalam Lingua Artistika Jurnal Bahasa dan Seni FBS Unnes No 3 Tahun XXIII September 2000.

Vincent, J.A. (1955). History of Art. New York: Barnes & Nobles.

Tulisan ini telah dipresentasikan dalam Bimbingan Teknis Guru-guru Seni di Donohudan tahun 2008.

sumber

http://www.thesuharto.com/2009/03/pengembangan-materi-dan-kegiatan.html.

Sosialisasi Penguatan KTSP dan Penulisan Soal Terstandar


Dimulai dari tanggal 19 Juli 2010  pelaksanaan kegiatan Sosialiasi dan Penguatan KTSP serta Penulisan Soal Terstandar dilaksanakan.

Peserta Sosialisasi dari Komda Sidareja

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dina sPendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Cilacap secara bergiliran di 7 (tujuh) Komda di kabupaten Cilacap.

1. Komda Majenang  tanggal 19 Juli 2010

2. Komda Jeruklegi tanggal 20 Juli 2010

3. Komda Sidareja tanggal 21 Juli 2010

4. Komda Maos tanggl 22 Juli 2010

5. Komda Kroya tanggal 26 Juli 2010

6. Komda Gandrungmangu tanggal 27 Juli 2010

7. Komda Cilacap tanggal 29 Juli 2010

dengan nara sumber dari Tim Pengembang Kurikulum (TPK) Kabupaten Cilacap yang berjumlah 10 orang mewakili 10 mata pelajaran.

1. Supandi, S.Pd, MM  (Bahasa Inggris)

2. Liliek Riyanto, S.Pd (Seni Budaya)

3. Mustofa, S.Pd (PKn)

4. R. Sri Pramana (IPA)

5. Anteng Widiastuti, S,Pd (Penjas Orkes)

6. Alwi Suwondo, S.Pd (IPS)

7. Tasno, S.Pd. I (PAI)

8. Rachmanto Adhi, S.Pd (Matematika)

9. Sugito, S.Pd (Bahasa Indonesia)

10 Sugeng Supriyadi, S.Pd (TIK)

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan serupa dengan peserta dari 3 (tiga) provinsi yaitu Kalimantan Barat, Jawa Tengah dan DIY yang dilaksanakan diHotel Sahid Jogjakarta pada tanggal 23 – 27 April 2010 yang lalu.  Bapak Hadi Priyoto selaku Pengawas SMP menjadi koordinator TPK.

Pelaksanaan secara bergiliran di masing-masing Komda ini dimaksudkan agar tujuan dari kegiatan ini mencapai sasaran, yaitu para guru di masing-masing satuan pendidikan setiap mata pelajaran.  Dengan harapan setiap sekolah mengirimkan minimal satu orang perwakilan guru mata pelajaran untuk mengikuti kegiatan sosialisasi ini.

Setelah mengikuti sosiaslisasi ini, diharapkan peserta mampu menjadi nara sumber dan tim pengembang kurikulum di sekolahnya masing-masing. Khususnya mengenai revisi dan pengembangan silabus serta RPP yang akan digunakan dan dituangkan dalam Kurikulum Satuan Pendidikan.

Materi yang disampaikan dalam satu hari mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB yang dibagi menjadi dua tahap, pertama penyampaian tentang:

1. Pendidikan Berkarakter

2. Penyetaraan Gender

3. Pengembangan Silabus dan RPP

4. Penyusunan Dokumen 1 dan Dokumen 2 KTSP

5. Penulisan Soal Terstandar

tahap kedua, setelah istirahat makan siang para peserta berlatih dan mencoba membuat revisi dan penyempuraan silabus dan RPP masing-masing mata pelajaran.

Semoga dengan adanya kegiatan ini, masing-masing satuan pendidikan mampu merivisi dan menyusun kurikulum (Dok. I dan Dok. II) dan para guru mampu meningkatkan kemampuannya dalam menyusun silabus dan RPP yang lebih baik.

UJIAN NASIONAL 2009/2010 TETAP DILAKSANAKAN


Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh menegaskan, Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2009/2010 akan tetap berjalan.

Hal tersebut disampaikan Mendiknas usai membuka Seminar Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca Tahun 2009 di Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, Senin (14/12/2009).

Mendiknas menyampaikan sejarah mengenai UN. Mendiknas menuturkan, sebelum Indonesia merdeka sampai dengan tahun 1972 ada ujian negara yaitu satu ujian secara nasional yang menyelenggarakan negara. Mendiknas menyebutkan, pada saat itu tingkat kelulusan antara 30 – 40 persen. Sejalan dengan itu, lanjut Mendiknas, pada tahun 1969 dimulai Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita), yang salah satu programnya adalah menaikkan angka partisipasi kasar (APK). “Yaitu mendorong anak – anak supaya dia bisa melanjutkan sekolah. Oleh karena itu dibangun SD Inpres. SD yang didasarkan atas instruksi presiden supaya dia bisa masuk ke sekolah,” katanya.

Lebih lanjut Mendiknas menjelaskan, karena jumlah siswa yang tidak lulus banyak di ujian negara maka kesempatan orang bersekolah menjadi terbatas. “Melihat kondisi itu, kemudian dibuat kebijakan baru ujian sekolah yaitu kelulusannya diserahkan kepada sekolah,” katanya.

Mendiknas mengatakan, kebijakan yang kemudian diterapkan selama 20 tahun ini berdampak siswa lulus semua. “100 persen semuanya lulus. Oleh karena itu muncul yang namanya Ebtanas,” ujarnya.

Mendiknas menyebutkan, Ebtanas adalah kombinasi antara ujian negara dengan  ujian sekolah. Pada Ebtanas nilai siswa ditentukan menggunakan rumus PQR yaitu gabungan dari nilai rapor, ujian sekolah, dan ujian nasional. “Hasilnya ternyata ujian yang diselenggarakan oleh nasional tadi itu dengan ujian yang diselenggarakan oleh sekolah ada gap yang luar biasa dan akibatnya juga lulus semua,” katanya.

Mendiknas mencontohkan, pada mata pelajaran yang sama seorang siswa yang diuji secara nasional mendapatkan nilai tiga, tetapi di ujian sekolah mendapatkan nilai delapan. “Jadi tadi itu mulai murni negara sudah, ditambah lagi murni sekolah juga sudah, dikombinasi dengan ujian sekolah juga sudah. Nah sekarang ini mata pelajarannya tertentu saja yang diuji oleh negara, yang lain sekolah yang menentukan,” katanya.

“Jadi apa yang diperdebatkan oleh orang – orang sekarang serahkan kepada sekolah itu sudah dilakukan tahun 1972 dulu. Hasilnya jeblok, lulus semua. Munculah yang namanya seratus persenisasi. Lho kok sekarang mau ditarik lagi berarti kembali kepada (tahun) 1972 yang lalu,” kata Mendiknas.

Mendiknas mengimbau kepada peserta didik untuk siap menghadapi ujian dan tidak terjebak pada perbedaan – perbedaan pendapat. “Orang yang paling baik adalah orang yang paling siap. Oleh karena itu, tugas utama guru mengajar, tugas utama murid adalah belajar. Kalau kita sudah siap, diuji oleh siapapun tidak ada masalah,” katanya.

Mendiknas mendorong supaya siswa tahan banting dan mempunyai semangat yang tinggi. “Bagi saya tidak perlu dipertentangkan antara apakah itu pemetaan dan kelulusan,” ujarnya.

Terkait usul untuk menjadikan UN hanya sebagai standar, Mendiknas mengatakan, kalau hanya dijadikan standar tidak melekat pada nilai itu pada orang per orang maka bisa menjadi bias lagi. “Sampeyan ujian negara, tidak saya pakai untuk menentukan kelulusan. Sampeyan akan menjawab sembarang ya kan? Wong nda menentukan, nda ada apa – apa nya. Berarti akan ada bias lagi. Kenapa harus kita kontroversikan? jauh lebih baik, sudah disamping untuk mementukan (kelulusan) juga untuk standar,” ujarnya kepada media.***


Sumber: Pers Depdiknas

Next Newer Entries

CO.CC:Free Domain

Hasil Karya dan Kegiatan

21012011786

21012011785

21012011783

21012011782

More Photos

RSS Tentang Pendidikan

  • Pakaian Seragam Nasional SMA (Permendikbud No.45/2014)
    Pakaian seragam nasional adalah pakaian yang dikenakan pada hari belajar oleh peserta didik di sekolah, yang jenis, model, dan warnanya sama berlaku secara nasional. Pakaian seragam nasional dikenakan pada hari Senin, Selasa, dan pada hari lain saat pelaksanaan Upacara Bendera.Read more ›
  • Visi dan Misi Calon Presiden-Wakil Presiden tentang Pendidikan
    Merujuk pada dokumen visi dan misi yang ditawarkan oleh kedua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden, berikut ini disajikan cuplikan komitmen masing-masing pasangan terhadap pendidikan: Read more ›
  • Sinergi Arah Peminatan Pendidikan Dasar dengan Pendidikan Menengah
    Peminatan di sekolah sebagai jawaban atas permasalahan yang timbul di masyarakat mengenai pemilihan jurusan atau arah peminatan yang menggambarkan keraguan peserta didik dalam menentukan pilihan mata pelajaran atau jurusan pada sekolah lanjutan atas yang sesuai dengan kemampuannya...Read more ›
  • Jambore Konselor Indonesia 2014
    Ikatan Konselor Indonesia (IKI) akan menggelar kegiatan Jambore Konselor Indonesia I Tahun 2014 bertempat di P4TK Penjas dan BK Parung – Bogor, 21-23 Maret 2014...Read more ›
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: