Berita LELAYU ?


Siang ini, saya dan dua teman guru lain sedang berbincang-bincang mengenai persiapan Pra UN di sekolah kami masing-masing, tiba-tiba ponsel salah seorang teman berbunyi menandakan ada sms atau pesan singkat yang masuk.

Setelah dibuka dan dibaca, temanku langsung senyum-senyum tertahan hingga kami berdua penasaran.  Ternyata isi pesan tersebut cukup menggelitik.  Isinya seperti ini :

“…innalilahi waina ilaihi rojiun..telah berpulang ke Rahmat Alloh hati nurani seniman birokrasi yg mengatur pembudidayaan seni tradisi jateng karna tahun ini tidak ada pekan seni.   Sungguh kami seniman penggarap turut prihatin dan merasa kehilangan…karna sarana kami berekspresi sudah terbungkus mori…”

Perbincangan kami bertiga spontan beralih kepada isi pesan singkat itu.  Memang kegiatan Porseni atau Popdaseni yang biasa rutin dilaksanakan setiap tahun ada perbedaan pada tahun ini.  Ajang mengasah bakat dan prestasi untuk siswa di bidang kesenian, tahun 2011 ini ditiadakan kecuali cabang olah raga yang saat ini sudah melalui tahap seleksi tingkat kecamatan.

 

Para guru, seniman penggarap, pelatih, pengamat seni dan mungkin pihak-pihak lain yang biasa terlibat dalam kegiatan ini terpaksa gigit jari setelah menunggu kabar cukup lama.  Surat edaran dari tingkat provinsi tentang pelaksanaan kegiatan ini hanya mencantumkan cabang olah raga yang dipertandingkan.

Lho.. kenapa?  Ada apa?  Mengapa?..

Perbincangan kami yang hanya berjumlah tiga orang sepertinya tidak mungkin cukup untuk mencari jawaban pertanyaan itu.  Apalagi kami hanya guru mata pelajaran biasa.  Kami yakin dibalik keputusan ini tentu sudah melalui proses pembahasan untuk memberikan kebijakan dan pertimbangan tertentu.  Semoga ini bukan imbas dari persiapan UN yang sedang hangat dibicarakan dengan perubahan formula penghitungan nilai kelulusan.

Jika pada awalnya penempatan guru seni budaya di sekolah tidak sesuai dengan bidang pendidikannya..kami masih bisa maklum

Jika kemudian jam belajar seni budaya di kelas kadangkala “diminta” untuk digunakan pelajaran yang di UN kan..kami rela

Jika lantas berbuntut pada semakin sempitnya ruang gerak kami untuk berekspresi..semakin berkurangnya kesempatan anak didik untuk berapresiasi (belajar menghargai karya orang lain)… mungkin semakin menguatkan ketakutan kami..bahwa sistem pendidikan sekarang ini lebih mengedepankan IQ, intelektual atau mata pelajaran eksakta dan mengesampingkan peran mata pelajaran seni.

Hal ini tentunya ditakutkan akan semakin berkurangnya rasa “kesenian” pada anak didik. Apakah hal ini berpengaruh pada kepekaan nurani mereka terhadap dunia sekitarnya? Kami belum berani membahas terlalu jauh.

Akhirnya pembicaraan kami bertiga berhenti sampai disitu. Kami berpisah pulang ke rumah masing-masing dengan membawa perasan resah.  Dengan harapan dan tekad bahwa kami para guru tidak akan patah semangat dan terus memotivasi anak didik dalam pembelajaran seni budaya dengan semua kemampuan yang kami punya untuk mengenalkan pada mereka tentang dunia kesenian pada umumnya.

 

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

CO.CC:Free Domain

Hasil Karya dan Kegiatan

21012011786

21012011785

21012011783

21012011782

Lebih Banyak Foto

RSS Tentang Pendidikan

%d blogger menyukai ini: