Sekilas Tentang Pelukis Basuki Abdullah


Tokoh seni lukis naturalis terpenting. Lahir di Solo, 27 Januari 1915 dan meninggal di Jakarta, 1993. Putra kedua Abdullah Suriosubroto (seorang pelukis naturalis era Indie Mooi) dan cucu dr. Wahidin Sudirohosodo,tokoh perintis Kebangkitan Nasional. Saudaranya, Sujono Abdullah dan Tridjoto Abdullah juga seorang pelukis. Pada 1933, ia dikirim ke Belanda untuk belajar melukis pada Akademis van Be/ldende Kunsten Free Academy offine Arts. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya ke Roma dan Paris. Ia memperoleh gelar Royal Academy, karena dapat menyelesaikan pendidikan yang seharusnya lima tahun menjadi tiga tahun.
Ia juga sempat mendapat bimbingan dari pelukis Schumacher menjelang kepulangannya ke Indonesia.

Basuki Abdullah, merupakan sedikit dari pelukis-pelukis terdidik dalam dunia seni rupa Indonesia pada tahun 1930-an. Ia mengembangkan kemampuan dalam seni potret lukisan pemandangan alamo lukisan-lukisan potretnya biasanya diidealkan, sementara komposisi bebasnya membawa satu selera romantis serta sedikit mewah.

Lagi

Affandi – Maestro Seni Lukis Indonesia


Semasa hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari 2.000 karya lukis. Karya-karyanya yang dipamerkan ke berbagai negara di dunia, baik di Asia, Eropa, Amerika maupun Australia selalu memukau pecinta seni lukis dunia. Pelukis yang meraih gelar Doktor Honoris Causa dari University of Singapore tahun 1974 ini dalam mengerjakan lukisannya, lebih sering menumpahkan langsung cairan cat dari tube-nya kemudian menyapu cat itu dengan jari-jarinya, bermain dan mengolah warna untuk mengekspresikan apa yang ia lihat dan rasakan tentang sesuatu.

Dari segi pendidikan, putra Cirebon kelahiran Cirebon tahun 1907 ini termasuk seorang yang memiliki pendidikan formal yang cukup tinggi. Bagi generasinya yang kelahiran 1907, memperoleh pendidikan H.I.S, MULO, dan selanjutnya tamat dari A.M.S, termasuk pendidikan yang hanya diperoleh oleh segelintir anak negeri. Namun bakat seni lukisnya yang sangat kental mengalahkan disiplin ilmu lain dalam kehidupannya, dan memang telah menjadikan namanya tenar sama dengan tokoh atau pemuka bidang lainnya.
Ketika Republik ini diproklamasikan 1945, banyak pelukis ambil bagian. Gerbong-gerbong kereta dan tembok-tembok ditulisi antara lain “Merdeka atau mati!”. Kata-kata itu diambil dari penutup pidato Bung Karno ‘Lahirnya Pancasila’, 1 Juni 1945. Saat itulah, Affandi mendapat tugas membuat poster. Poster itu idenya dari Bung Karno, gambar orang yang dirantai tapi rantai itu sudah putus. Yang dijadikan model pelukis Dullah. Lalu kata-kata apa yang harus ditulis di poster itu? Kebetulan muncul penyair Chairil Anwar. Soedjojono menanyakan kepada Chairil, maka dengan enteng Chairil ngomong: “BUNG, AYO BUNG!”

Lagi

CO.CC:Free Domain

Hasil Karya dan Kegiatan

21012011786

21012011785

21012011783

21012011782

Lebih Banyak Foto

RSS Tentang Pendidikan

  • Paradigma Baru Manajemen Pendidikan
    Spanbauer (Uhar Suharsaputra, 2015) menegaskan tentang pentingnya upaya mengembangkan paradigma baru dalam manajemen pendidikan, menggantikan paradigma lama yang dianggap usang... Read more ›
  • Download E-Book Bunga Rampai Lomba Esai Psikologi
    Pada tahun 2014 lalu, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran Bandung telah menyelenggarakan kegiatan PSYWEEK PSYFERIA 2014. Salah satu bentuk kegiatan yang dilaksanakan pada event ini adalah lomba penulisan esai tentang psikologi yang diikuti oleh para mahasiswa Fakultas Psikologi dari berbagai perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Read more ›
  • Pembayaran Tunjangan Profesi Pendidik Tahun 2015
    Terkait beredarnya berita tentang terjadinya perubahan mekanisme persyaratan, pemberian dan pembayaran tunjangan profesi yang isunya melekat pada gaji, maka dengan ini diinformasikan bahwa sampai saat ini regulasi terkait dengan isu tersebut belum ada, sehingga dapat dipastikan tidak ada perubahan pada mekanisme persyaratan, pemberian dan pembayaran tunjanga […]
  • Permendikbud No. 4 Tahun 2015 tentang Ekuivalensi Kegiatan Pembelajaran/Pembimbingan
    Permendikbud No. 4 Tahun 2015 tentang Ekuivalensi Kegiatan Pembelajaran/ Pembimbingan: Kebijakan pemerintah untuk kembali pada Kurikulum Tahun 2006 pada sekolah yang baru melaksanakan selama 1 (satu) semester telah berdampak terjadinya sebagian guru tertentu tidak dapat memenuhi beban mengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu, yang tentunya hal ini berda […]
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 63 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: